Minggu, 24 Maret 2013

makalah Ekonomi Islam: Sumber-sumber Ajaran Ekonomi Islam


MAKALAH
SUMBER AJARAN EKONOMI ISLAM

Description: G:\Logo Stain Warna.jpg




Disusun Oleh:
Fitria
11.1202.0011





PROGRAM STUDI MU’AMALAH
JURUSAN SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SAMARINDA
2012/2013

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ekonomi Islam sebagai salah satu cabang dari ajaran yang ada di dalam agama Islam. Sebagai salah satu dari ajaran dalam Islam, tentulah tujuan dari Ekonomi Islam harus sama dengan tujuan dari syariah. Yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Semua itu, tidak lain dimaksudkan agar dapat terciptanya kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Dan untuk mencapai kebahagiaan yang seperti itu, tentulah diperlukan sarana atau media agar kebahagiaan tersebut dapat terwujud.
Dan kesemuaan daripada sarana untuk mencapai kebahagiaan tersebut, Allah cerminkan ke dalam bentuk ayat-ayat qauliyah, kauniyah dan insaniyah.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Saja Sumber-Sumber Ajaran Ekonomi Islam dan Apa Yang Menjadi Prioritas Sumber Ajaran Ekonomi Islam serta Hubungannya Sumber Ajaran antar Satu Sama Lain ?
2.      Apa Saja Problem-Problem Penafsiran Sumber Ekonomi Islam ?
C.     Tujuan
1.      Agar Mahasiswa Memahami Sumber-Sumber Ajaran Ekonomi Islam dan Yang Menjadi Prioritas serta Hubungannya Satu Sama Lain dan
2.      Agar Mahasiswa Mengetahui Problem-Problem dalam Penafsiran Sumber Ekonomi Islam.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sumber (Ajaran) Ekonomi Islam, Prioritas dan Hubungannya Satu Sama Lain
Ekonomi Islam dibangun atas dasar agama Islam. Oleh karena itu, ekonomi Islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari agama Islam. Dan sebagai bagian yang tak terpisahkan, tentunya ekonomi Islam akan mengikuti segala aspek yang ada pada ajaran Islam.[1]
Ekonomi Islam bertujuan untuk mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Guna mencapai kebahagiaan tersebut, diperlukan suatu langkah metodologis untuk mengetahui seperti apa kriteria perilaku maupun perekonomian yang dikatakan benar menurut Islam. Karenanya, digunakanlah metodologi ekonomi Islam untuk mengetahui seperti apa kriteria yang benar menurut Islam. Tujuan utama dari langkah-langkah metodologis tersebut adalah untuk membantu mencari kebenaran yang dimaksud. Islam meyakini bahwa sumber kebenaran mutlak yang berlaku untuk setiap aspek kehidupan pada ruang dan waktu yaitu, Al-Qur’an dan Sunnah yang merupakan kebenaran deduktif wahyu Ilahi (ayat qauliyah). Yang mana, dari kedua sumber kebenaran inilah yang menjadi dasar pengambilan keputusan ekonomi. Proses dalam pengambilan keputusan ekonomi tersebut disebut sebagai rasionalitas Islam.[2]      
Yang dimaksud dengan ayat qauliyah adalah kehendak Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an. Yaitu 30 juz 114 surah dan 6236 ayat yang ada di dalamnya. Juga Sunnah nabi Muhammad Saw. Inti dari isi Al Qur'an adalah ketauhidan. Dengan ketauhidan ini, akan menjembatani setiap amal perbuatan yang dilakukan manusia sampai menuju akhirat. Artinya, dengan adanya keyakinan tauhid ini, manusia akan percaya bahwasanya setiap amal perbuatan yang dilakukannya, baik maupun buruk akan mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat kelak. Karena, disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa tugas manusia sebagai khalifah dan kelak akan dimintai pertanggung jawabannya.[3]
Penurunan kebenaran atau hukum dalam ekonomi Islam selain didasarkan pada kebenaran deduktif wahyu Ilahi, Al-Qur’an dan Sunnah (ayat qauliyah) juga didukung oleh kebenaran induktif-empiris (ayat kauniyah).[4]
Ayat kauniyah berfungsi sebagai pendukung dan penguat dari kebenaran ayat qauliyah. Kebenaran akan ayat kauniyah ini masih dipengaruhi oleh penafsiran manusia terhadap fenomena sosial dan alam. Oleh karena itu, kebenaran induktif-empiris tidaklah mutlak.[5]
Mengenai sumber kebenaran induktif-empiris, manusia harus mencari sendiri dengan pengamatan, pengalaman masa lalu dan masa kini, serta perkiraan manusia terhadap masa depan.[6]
Ayat kauniyah ini berwujud dengan fenomena yang ada dan terjadi pada alam semesta ini. Seperti penciptaan segala benda yang ada, baik di langit maupun di bumi. Air, udara, matahari, tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya, merupakan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan dalam bentuk alam semesta beserta isinya.
Ketika seseorang tidak mengimani wujud dari ayat-ayat Allah yang tercipta dalam bentuk fenomena alam, maka sulit baginya untuk melihat segala kekayaan dan potensi yang dimiliki oleh alam ini.
Selain sumber ajaran ekonomi Islam ada pada ayat qauliyah dan ayat kauniyah, ada lagi yang menjadi sumber ajaran dari ekonomi Islam, yaitu ayat insaniyah. Ayat insaniyah merupakan kebesaran-kebesaran Allah yang ada pada diri manusia. Ayat insaniyah ini berdasarkan kepada nilai-nilai moral dan etika manusia dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Salah satunya ialah berkenaan dengan etos kerja.
Etos kerja dalam Islam pada hakikatnya merupakan bagian dari perwujudan eksistensi diri manusia dalam berbagai lapangan kehidupan manusia yang amat luas dan kompleks. Konsep Islam semacam itu diturunkan dari Al-Qur’an, seperti yang dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 30-33, yaitu bagaimana Allah telah menciptakan manusia (Adam) sebagai khalifah di bumi, dan diajarinya manusia (Adam) nama-nama benda (iptek), sehingga mengungguli malaikat dan setan. Dari keterangan ayat tersebut, Musa Asy’arie menarik kesimpulan bahwa diangkatnya manusia sebagai khalifah dikarenakan manusia mempunyai kelebihan daripada malaikat dan setan. Tugas utama seorang khalifah adalah untuk memakmurkan kehidupan di muka bumi. Dan kemakmuran itu hanya dapat diwujudkan dengan cara mengembangkan pengetahuan konseptual pada lapangan kehidupan yang amat luas, melalui pengembangan ilmu pengetahuan. Konsep khalifah pada prinsipnya bertumpu pada kemampuan seseorang dalam membangun pengetahuan konseptual. Sehingga, dengan kemampuan konseptualnya yang berbasis pada kreativitasnya itu, manusia dapat meneruskan tugas penciptaan. Alam dan kehidupan semesta ini bukanlah cetakan yang sudah final dan statis, tetapi sebagai proses yang dinamis, yang terkendali dalam sunatullah yang perkasa, yang memberi ruang kepada manusia untuk mewujudkan kreativitasnya, dalam lapangan kehidupan yang amat luas. Jika Tuhan menciptakan lautan, manusia membuat kapal untuk mengarunginya,  jika Tuhan menciptakan malam, manusia membuat lampu untuk meneranginya.[7]
Sedangkan ‘abdun adalah bawaan kodrat semua ciptaan Tuhan, termasuk manusia. Dan kodrat manusia sebagai ‘abdun merupakan landasan moral yang mengharuskan ia tunduk kepada hukum-hukum dari Tuhan. Karena, seorang khalifah itu adalah eksistensi kreatif manusia, maka ia tetap harus menempatkan dirinya sebagai hamba (‘abd) dari Tuhan, yang tak pernah mutlak kekuasaannya. Jadi,  bersikap ‘abdun tidak berarti menjadi fatalis, tidak kreatif dan bermental budak. Dikatakan dalam Al-Qur’an, konsep khalifah dan ‘abdun itu sesungguhnya merupakan satu-kesatuan, yaitu menyatukan kemampuan kreativitas sebagai khalifah dengan kepatuhan moral-spiritual sebagai ‘abdun. Persatuan khalifah-‘abdun inilah tiang utama etos kerja dalam Islam.[8]
Menurut M. Abdul Mannan, yang disadur dari buku ekonomi Islam karya Veithzal Rivai, ditulis bahwa ekonomi Islam dibangun berdasarkan pada beberapa sumber hukum, yaitu:
1.      Al-Qur’an
2.      Sunah Nabi
3.      Ijma’
4.      Ijtihad atau Qiyas dan
5.      Prinsip hukum lainnya.[9]
Sumber hukum yang disebutkan di atas merupakan jalan yang ditempuh demi mencapai kebahagiaan dunia-akhirat, atau biasa disebut dengan syariah. Syariah Islam berfungsi sebagai sumber informasi yang akan menunjukkan manusia pada kebahagiaan. Sumber hukum yang diakui oleh ahli hukum Islam terdiri dari sumber yang mutlak kebenarannya dan sumber yang memungkinkan dilakukannya rekodifikasi yang mengikuti perkembangan zaman.[10]
Sumber yang pertama adalah Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Sedangkan sumber yang kedua adalah sumber-sumber yang dimungkinkan terjadinya perbedaan pendapat atau perbedaan praktik. Sumber-sumber ini adalah istishan, maslahah mursalah, istishab dan urf (sumber metodologis). Dalam memahami sumber-sumber kedua ini, diperlukan proses pemikiran atau ijtihad. Ijtihad akan dinilai benar jika proses dan hasilnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Namun, apabila dari sumber-sumber tersebut ada yang bertentangan, antara satu dengan yang lain, maka Al-Qur’an dan Sunnah yang diutamakan. Karena, keduanya sumber hukum yang paling mutlak kebenarannya.[11]
Seperti yang telah dikatakan di atas, bahwa ekonomi Islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam, sudah pasti bahwa ekonomi Islam memiliki tujuan untuk mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Dan untuk kebahagiaan tersebut, diperlukan cara-cara maupun metodologi untuk mencapainya. Seperti bagaimana cara bertransaksi maupun berekonomi yang benar dan sesuai dengan ajaran Islam yang termaktub dalam ayat qauliyah, kauniyah dan insaniyah.
Karena keterbatasannya, manusia sudah tentu akan mencari sumber daripada ajaran tersebut, yang oleh umat Muslim sumber kebenaran yang paling mutlak berada pada Al-Qur’an dan Sunnah. Keduanya merupakan kebenaran deduktif (ayat qauliyah) dan sumber tersebut didukung oleh kebenaran empiris-induktif (ayat kauniyah) berupa fenomena terjadinya alam semesta beserta isinya. Selain itu, terdapat ayat insaniyah yang berbicara tentang tugas dari manusia, sebagai seorang khalifah-‘abdun.
Apabila pada sumber ajaran ekonomi tersebut bertentangan antara yang satu dengan yang lain, maka Al-Qur’an dan Sunnah yang utama karena merupakan sumber kebenaran mutlak. Begitulah ekonomi Islam yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Islam sehingga sumber ajarannya haruslah sesuai dengan Islam, guna mencapai kebahagiaan dunia-akhirat.
B.     Tipe-Tipe Metode Interprestasi (Pemahaman Atas Teks Keagamaan)
Al-Qur’an dan Sunnah merupakan ayat qauliyah atau kebenaran deduktif, merupakan salah satu dari sumber ajaran ekonomi Islam yang mutlak akan kebenaran dan kebaikan ajaran yang terkandung di dalamnya berasal dari Allah.
Oleh karena itu, dalam penafsirannya haruslah mengikuti garis panduan yang telah ditetapkan oleh para ulama muktabar, bukan mengartikaanya secara membabi buta atau sembarangan.[12]
Dalam perkembangan penafsiran Al-Qur’an, metodologi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mencapai hasil yang diinginkan. Kata metodologi terdiri dari dua kata yaitu method dan logi. Metodologi yang pada awalnya berasal dari bahasa latin methodus dan logia, kemudian kedua kata ini diserap oleh bahasa Yunani menjadi methodos yang berarti cara atau jalan. Cara yang teratur dan sistematis untuk pelaksanaan sesuatu. Sedangkan logos berarti kata, pembicaraan atau ilmu. Jadi, metodologi adalah ilmu cara-cara dan langkah-langkah yang tepat (untuk menganalisa sesuatu), penjelasan serta menerapkan cara.
Dalam kamus bahasa Indonesia, metodologi berarti cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya) atau cara kerja yang tersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai sesuatu yang ditentukan. Sedangkan lafadz tafsir, dalam kamus Bahasa Indonesia diartikan dengan penjelasan terhadap satu kalimat (eksplanasi dan klarifikasi) yang juga mengandung pengertian penyingkapan, penunjukkan dan keterangan dari maksud dari satu ucapan atau kalimat.
Metodologi tafsir berarti ilmu tentang bagaimana cara atau langkah supaya bisa menganalisa sesuatu dengan sistematis dan teratur sehingga menghasilkan kesimpulan yang jelas. Sebagai sebuah disiplin ilmu, tafsir tidak bisa lepas dari sebuah metode untuk mendapatkan sebuah cara yang sistematis untuk mencapai tingkat pemahaman yang benar tentang pesan Al-Qur'an yang dikehendaki “sang pengarang”. Dengan demikian, tugas metodologi tafsir adalah mencari sistem dan prosedur dalam upaya memahami dan menjelaskan kandungan Al-Qur'an.
Metodologi merupakan hal yang tidak bisa diabaikan, terlebih lagi dalam penafsiran al-Qur'an. Bagi umat Islam, al-Qur'an adalah kitab suci yang memiliki kebenaran mutlak dan memiliki otentisitas yang dijamin langsung oleh Allah SWT. Bagi setiap muslim yang mengimani al-Qur'an sebagai kitab suci tentu tidak mungkin pernah terbesit dalam jiwanya keraguan baik terhadap proses turunnya maupun terhadap isi kandungannya. Allah SWT sendiri menyatakan bahwa tidak terdapat ruang untuk meragukan dan mempertanyakan tentang otentisitas al-Qur'an.[13]
Sebagaimana halnya teks lain, Al-Qur’an dan Sunnah terkadang terdapat perbedaan pendapat dalam penafsirannya. Salah satu penyebabnya dari faktor internal mengenai sikap atau paradigma yang berbeda di antara para mufassir. Seperti pemahaman yang menggunakan paradigma tekstual, tentu akan menimbulkan interprestasi yang berbeda dengan pemahaman yang menggunakan paradigma kontekstual, bahkan mungkin bertolak belakang sama sekali.[14]
1.      Pendekatan Tekstual
Secara etimologi, tekstual berasal dari bahasa Inggris text yang berarti isi, bunyi dan gambar-gambar dalam sebuah buku. Secara terminologis, pemahaman tekstual adalah pemahaman yang berorientasi pada teks dalam dirinya. Oleh karena itu, dalam pendekatan ini wahyu dipahami melalui pendekatan kebahasaan, tanpa melihat sosio-historis, kapan dan di mana wahyu itu diturunkan. Terdapat beberapa metode penafsiran Al-Qur’an seperti:
1.      Metode tafsir bi al-ma'tsûr atau bi ar-riwâyah yaitu tafsir yang menafsirkan Al-Qur'an berdasarkan nash-nash baik dengan ayat-ayat Al-Qur'an itu sendiri dengan hadis Nabi dengan aqwal sahabat, maupun dengan aqwal para tabi'in.
2.      Metode tafsir bi ar-ra'y atau bi ad-dirayah yaitu menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an yang berdasarkan pada ijtihad para mufassirinnya dengan mempergunakan logika (akal) dan menjadikan akal pikiran sebagai pendekatan utamanya.
3.      Metode tafsir Bi al-isyârah yaitu tafsir sufi yang didasarkan pada tasawuf 'amaly (praktis) yaitu menta'wilkan ayat-ayat Al-Qur'an berdasarkan isyarat-isyarat tersirat (samar) yang tampak oleh sufi dalam suluknya. Pada umumnya tafsir ini dapat dipertemukan dengan lahir ayat dan tidak menyalahi ketentuan-ketentuan bahasa.[15]
2.      Pendekatan Kontekstual
Kontekstual secara etimologi, berasal dari kata context yang berarti suasana atau keadaan. Jadi, pemahaman kontekstual adalah pemahaman yang didasarkan bukan hanya pada pendekatan kebahasaan, tetapi juga teks dipahami melalui situasi dan kondisi ketika teks itu muncul, dalam hal ini “wahyu”.[16]
Dari sini pemahaman kontekstual atas Al-Qur’an, adalah memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an dengan memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan peristiwa atau situasi yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat tersebut atau dengan kata lain, dengan memperhatikan dan mengkaji konteksnya. Dengan demikian asbab nuzul dalam kajian kontekstual dimaksud merupakan bagian yang paling penting. Tetapi kajian yang lebih luas tentang pemahaman kontekstual tidak hanya terbatas pada asbab nuzul dalam arti khusus seperti yang biasa dipahami, tetapi lebih luas dari itu meliputi: konteks sosio-historis di mana asbab nuzul merupakan bagian darinya. Dengan demikian, pemahaman kontekstual atas ayat-ayat Al-Qur’an, berarti memahami Al-Qur’an berdasarkan kaitannya dengan peristiwa-peristiwa dan situasi ketika ayat-ayat diturunkan dan kepada siapa serta tujuannya apa ayat tersebut diturunkan.
Untuk itulah Al-Qur’an berusaha di dialogkan dengan realita zaman sekarang, melalui studi kontekstualitas Al-Qur’an. Sedangkan makna yang lebih luas lagi, studi tentang kontekstual Al-Qur’an adalah studi tentang peradaban yang didasarkan pada pendekatan sosio-historis. Adapaun pemahaman sosio-historis dalam pendekatan kontekstual adalah pendekatan yang menekankan pentingnya memahami kondisi-kondisi aktual ketika Al-Qur’an diturunkan, dalam rangka menafsirkan pernyataan legal dan sosial ekonominya. Atau dengan kata lain, memahami Al-Qur’an dalam konteks kesejarahan dan harfiyah, lalu memproyeksikannya kepada situasi masa kini kemudian membawa fenomena-fenomena sosial ke dalam naungan-naungan tujuan Al-Qur’an.
Aplikasi pendekatan kesejarahan ini menekankan pentingya perbedaan antar tujuan atau ”ideal moral” Al-Qur’an dengan ketentuan legal spesifiknya. Ideal moral yang dituju Al-Qur’an lebih pantas diterapkan ketimbang ketentuan legal spesifiknya.
Pendekatan sejarah tersebut tidak bisa lepas dari asbab nuzul ayat Al-Qur’an yang biasanya –walau tidak seluruhnya– bersumber dari sunnah, atsar ataupun dari tabi’in. Jadi, secara metodologis tehnik ini termasuk kedalam metode tafsir bi al-ma’tsur.
Hubungan teks dan konteks bersifat dialektis, teks menciptakan konteks, persis sebagaimana konteks menciptakan teks. Sedangkan makna timbul dari keduanya. Upaya ke arah penafsiran kontekstual terhadap teks-teks Al-Qur-an pertama-tama harus dimulai dengan menempatkan prinsip ketuhanan Tauhid. Di sinilah, maka ayat-ayat Al-Qur-an yang bermakna pesan-pesan yang bersifat universal ini harus menjadi dasar bagi seluruh cara pandang penafsiran kita terhadap teks-teks atau ayat-ayat Al-Qur’an.[17]



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Ekonomi Islam dibangun berdasarkan pada beberapa sumber hukum, yaitu:
a)      Al-Qur’an
b)      Sunah Nabi
c)      Ijma’
d)     Ijtihad atau Qiyas dan
e)      Prinsip hukum lainnya.
Islam meyakini bahwa sumber kebenaran mutlak yang berlaku untuk setiap aspek kehidupan pada ruang dan waktu yaitu, Al-Qur’an dan Sunnah yang merupakan kebenaran deduktif wahyu Ilahi (ayat qauliyah). Yang mana, dari kedua sumber kebenaran inilah yang menjadi dasar pengambilan keputusan ekonomi. Yang dimaksud dengan ayat qauliyah adalah kehendak Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an. Juga Sunnah nabi Muhammad Saw.
Sedangkan ayat kauniyah ini berwujud dengan fenomena yang ada dan terjadi pada alam semesta ini. Ada pula ayat insaniyah yang merupakan kebesaran-kebesaran Allah yang ada pada diri manusia. Ayat insaniyah ini berdasarkan kepada nilai-nilai moral dan etika manusia dalam menjalankan kegiatan ekonomi.
Apabila pada sumber ajaran ekonomi tersebut bertentangan antara yang satu dengan yang lain, maka Al-Qur’an dan Sunnah yang utama karena merupakan sumber kebenaran mutlak.
Ekonomi Islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam, sudah pasti bahwa ekonomi Islam memiliki tujuan untuk mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Dan untuk kebahagiaan tersebut, diperlukan cara-cara maupun metodologi untuk mencapainya. Seperti bagaimana cara bertransaksi maupun berekonomi yang benar dan sesuai dengan ajaran Islam.
2.      Al-Qur’an dan Sunnah merupakan ayat qauliyah atau kebenaran deduktif, merupakan salah satu dari sumber ajaran ekonomi Islam yang mutlak akan kebenaran dan kebaikan ajaran yang terkandung di dalamnya berasal dari Allah. Maka untuk penafsiran tidak diperkenankan membabi buta. Dalam perkembangan penafsiran Al-Qur’an, metodologi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mencapai hasil yang diinginkan.
Sebagaimana halnya teks lain, Al-Qur’an dan Sunnah terkadang terdapat perbedaan pendapat dalam penafsirannya. Salah satu penyebabnya dari faktor internal mengenai sikap atau paradigma yang berbeda di antara para mufassir. Seperti pemahaman yang menggunakan paradigma tekstual, tentu akan menimbulkan interprestasi yang berbeda dengan pemahaman yang menggunakan paradigma kontekstual, bahkan mungkin bertolak belakang sama sekali.
B.     Saran
Karena makalah ini belum mencapai titik kesempurnaan, pemakalah mengharapkan masukan saran maupun kritik yang membangun dari dosen pembimbing maupun dari para pembaca.





DAFTAR PUSTAKA

Asyarie, Musa. Islam: Keseimbangan Rasionalitas, Morlaitas dan Spiritualitas. Yogyakarta: LESFI, 2005.
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII Yogyakarta. Ekonomi Islam. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008.
Rivai, Veithzal, dan Buchari, Andi. Islamic Economics. Ekonomi Syariah Bukan Opsi, Tapi Solusi. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009.
Kholis, Nur. Perbedaan Mendasar Ekonomi Islam Dan Ekonomi Konvensional. Dalam http://nurkholis77.staff.uii.ac.id/perbedaan-mendasar-ekonomi-islam-dan-ekonomi-konvensional/.
Saeful Anwar, Endang. Perkembangan dan Signifikasi Metodologi Penafsiran Memahami Al-Qur’an. Dalam http://fud.iainbanten.ac.id/
Sadik, M. Al-Qur’an dalam Perdebatan Pemahaman Tekstual dan Kontekstual, hunafa.stain-palu.ac.id/archives/685.  (diakses 19-3-13 pukul 13.54).


[1] Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII Yogyakarta, Ekonomi Islam, Ed.1 (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008), h. 13.
[2] Ibid., h. 26-27.
[4] Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII Yogyakarta, op. cit., h. 17.
[6] Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII Yogyakarta, op. cit., h. 33.
[7] Musa Asyarie, Islam: Keseimbangan Rasionalitas, Morlaitas dan Spiritualitas, (Cet.1  Yogyakarta: LESFI, 2005), h. 59-62.
[8] Ibid.
[9] Veithzal Rivai dan Andi Buchari, Islamic Economics. Ekonomi Syariah Bukan Opsi, Tapi Solusi, Ed. 1 (Cet. 1; Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), h. 381-382.
[10] Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII Yogyakarta, op. cit., h. 33-34.
[11] Ibid.
[12] Nur Kholis, Perbedaan Mendasar Ekonomi Islam Dan Ekonomi Konvensional, dalam http://nurkholis77.staff.uii.ac.id/perbedaan-mendasar-ekonomi-islam-dan-ekonomi-konvensional/. (diakses 28-02-13 pukul 11.21).

[13] Endang Saeful Anwar, Perkembangan dan Signifikasi Metodologi Penafsiran Memahami Al-Qur’an. Dalam http://fud.iainbanten.ac.id/ (diakses 19-03-13 pukul 13.38).

[14] M. Sadik, Al-Qur’an dalam Perdebatan Pemahaman Tekstual dan Kontekstual, hunafa.stain-palu.ac.id/archives/685.  (diakses 19-3-13 pukul 13.54).
[15] Endang Saeful Anwar, loc. cit.
[16] M. Sadik, loc. cit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar